Boomers Problematik

Hal paling menyebalkan yang dilakukan Boomers dan sering mengganggu generasi muda .


Ini daftar hal-hal yang sering dianggap menyebalkan oleh generasi muda dari perilaku sebagian Boomers, terutama di lingkungan kerja atau organisasi. Ini bukan bermaksud menggeneralisasi semua Boomers, tapi lebih kepada pola yang sering dikeluhkan:

πŸ”₯ Hal Paling Menyebalkan yang Dilakukan Boomers terhadap Generasi Muda:

πŸ§“ Post-Power Syndrome (Narsis Kekuasaan Lama)
➤ Merasa masih harus dihormati penuh walau tidak aktif atau produktif lagi.
➤ Sering menghambat regenerasi karena enggan melepas jabatan.

πŸͺœ Gak Mau Turun dari C-Level (Posisi Tinggi)
➤ "Selama saya masih hidup, gak ada yang gantiin saya!"
➤ Padahal kinerjanya menurun atau stuck.

πŸ™… Denial terhadap Perubahan Zaman
➤ Menolak teknologi baru, semacam metode kerja modern, atau budaya digital.
➤ Sering berkata: "Zaman saya dulu gak begini!"

πŸ—£️ Ingin Menang Sendiri dalam Diskusi
➤ Tidak membuka ruang untuk sudut pandang baru.
➤ Selalu merasa lebih tahu karena "pengalaman hidupnya lebih banyak."

πŸ™‰ Gak Mau Disalahkan (Selalu Cari Kambing Hitam)
➤ Sering menyalahkan generasi muda saat terjadi kesalahan,
➤ Tapi gak mau tanggung jawab saat ide mereka sendiri gagal , ngilang buat cuci tangan .

⏰ Terlalu Fokus pada Jam Kerja Kaku
➤ "Kerja itu dari jam 7 sampai 4! Jangan banyak alasan!"
➤ Tidak memahami konsep fleksibilitas atau hasil kerja berbasis output. Wajib bikin laporan sana sini tapi output gak ada malah ngakunya kerja keras .

πŸ’Ό Meremehkan Soft Skill & Kreativitas
➤ Menganggap pekerjaan yang "tidak capek" itu bukan kerja.
➤ Tidak menganggap desain, konten, fotografi, digital marketing bukan sebagai profesi serius.

🧠 Menolak Feedback dari Bawahan Muda
➤ Dibilang "kritis", tapi saat diberi masukan malah dianggap melawan.
➤ "Kamu baru di beri kepercayaan segitu sudah terlalu berani dan banyak bicara .

🏚️ Nostalgia Berlebihan dengan masturbasi kejayaan lawas .
➤ Meromantisasi masa lalu dan menolak solusi masa kini.
➤ "Dulu mah semua serba susah, kalian mah enak sekarang!"

πŸ“’ Sering Menyudutkan dengan Label "Anak Zaman Sekarang"
➤ Generalisasi negatif: manja, gak tahan banting, baperan, dll.
➤ Padahal banyak tantangan generasi sekarang jauh lebih kompleks.



✍️ Kalau misalkan kita ngasih data bukti valid, langsung menyerang. Ngasih fakta, ada pun percuma ngadepin mereka.
 Disebut, sudah berani kamu. Baru dikasih kepercayaan segitu, sudah berani. Kayak gitu-gitu . Itu termasuk salah satu bentuk defensif klasik dan power abuse yang sering banget dirasain generasi muda saat berhadapan dengan sebagian Boomer di lingkungan kerja atau organisasi. 

πŸ’’ Fakta Dianggap Serangan, Bukan Bahan Evaluasi

➤ Saat generasi muda menyampaikan data valid, bukti konkret, atau masukan objektif, langsung dianggap menyerang pribadi.
➤ Responsnya sering sinis atau intimidatif, seperti:

“Kamu baru kerja sebentar udah sok tahu.”
“Berani juga kamu ngomong gitu ya, dikasih sedikit kepercayaan.”
“Kamu kira kamu siapa?”

➤ Masalah utamanya: bukan logika atau isi data, tapi karena egonya merasa terusik.
➤ Akhirnya, orang muda merasa:

“Ngomong pake data aja percuma. Mau jujur atau transparan pun tetap dianggap kurang ajar.”

Fenomena ini sering bikin orang muda capek mental dan trauma komunikasi, karena apapun pendekatannya tetap dianggap melawan.


Ego-nya kesenggol kayaknya ya. Mungkin peran dia merasa bakal keganti sama kita. Entah mungkin karena kita menjadi tersorot dan sedikit menonjol.


πŸ’― Tepat banget yang kami rasain itu banyak juga dirasain generasi muda lain di berbagai tempat. Intinya:

Boomers yang sudah lama pegang peran, merasa identitas dan eksistensinya terancam saat ada anak muda yang menonjol, berani bicara, dan disorot.

🧠 Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ego kesenggol → rasa takut tersaingi.
➤ Buat mereka, posisi = harga diri.
➤ Saat kita tampil menonjol atau lebih solutif, mereka takut kehilangan pengaruh.

Perasaan tidak relevan → membuat mereka jadi defensif.
➤ Mereka takut dianggap “usang” atau tidak berguna.
➤ Jadi mereka menyerang balik supaya tetap terlihat berkuasa.

Budaya senioritas dan mereka terbiasa dihormati tanpa pertanyaan.
➤ Di zaman mereka, yang muda harus “diam dan nurut”.
➤ Jadi saat kita vokal dan melek data, mereka anggap itu "kurang ajar".

πŸ’¬ Contoh Reaksi Boomer Saat Ego Tersenggol:

“Baru juga kerja sebentar udah sok ngerti.”

“Kalau kamu pintar, kamu aja yang jadi atasan!”

“Kamu kira gampang jadi saya dulu?”

“Jangan belagu, kamu masih numpang nama besar sini.”

πŸ“Cara Menghadapi (kalau kamu mau tetap survive):



Jangan buru-buru ingin diakui. Fokus ke hasil nyata, biar pengaruh datang dari kualitas, bukan konfrontasi.

Dan pesan buat adik ku kalangan Gen Z mohon masukin dalam CV kalian .

Experience :
Survive in indonesia ...

Mainkan diplomasi, bukan frontal. Ubah “kritik” jadi “pertanyaan.”
Misal:

Gunakan kalimat izin dan kalimat tanpa memaksa . Bangun aliansi diam-diam. Dekati rekan yang bisa ngerti cara pikir kita.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOKO LAUK NAON IEU adalah TOKO IKAN HIAS DI LIMBANGAN

Apa itu Prewedding ?